catatan diri dan tren berita di masyarakat

Jumat, 01 Juli 2016

Kultum Tentang Toleransi dan Cincin Raja

Jumat pagi 1 Juli 2016 ini, kegiatan sahur sama seperti sebelumnya di rumah. Hidangan di depan mata. TV kami nyalakan. Kebiasaan makan sahur kami saat ini adalah makan mendekati waktu subuh. Jadi Bila tahun-tahun sebelumnya kami sempat nonton serial Para Pencari Tuhan, sekarang hanya dapat adegan 3-5 menit sebelum habis durasi filmnya.


Pagi sahur kali ini juga hampir sama seperti sebelumnya. Saluran tivi akan mengarah ke kultumnya Pak Quraisy Shihab. Saya sebenarnya mau yang lain aja. Tapi orang rumah sudah biasa nonton ceramah itu.


Ada pertanyaan dari bintang tamu tentang bagaimana seharusnya umat islam bertoleransi dengan pihak umat agama lain yang sama-sama merasa benar atas ajaran agamnya.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, sang penceramah menganalogikan dengan Cincin Raja. Alkisah
ada seorang Raja yang memberikan Cincin Raja kepada para calon penerusnya. Ada beberapa calon penerus Raja. Tapi Raja memberikan cincin Raja itu sebenarnya hanya pada satu orang Penerus Raja saja. Entah kenapa, Raja membuat imitasi Cincin Raja dan memberikannya kepada setiap penerus Raja secara diam-diam.

singkat cerita, alih-alih daripada harus berkonflik tentang siapa sebenarnya penerima Cincin Raja, seharusnya para Penerus Raja ini bertanya saja secara langsung kepada sang Raja. Selesai. Bila kita umat beragama, maka bertanya saja langung kepada Tuhan. Selesai.


---- happy ending ... dan istri saya mengatakan betapa briliannya analogi itu dalam bertoleransi.

Namun, analogi itu tidak tepat juga menurut saya. Sebenarnya Raja itu manusia. Para Ppenerus Raja itu juga manusia. Bahkan para Pengikut Penerus Raja itu adalah manusia-manusia juga. Bahkan bila melihat strata titelnya, hheeehee ... Kalau Raja adalah yang memiliki kemampuan Hebat dan Pintar serta berkuasa, maka secara strata, para Penerus Raja ini downgrade dari sang Raja. Lalu bagaimana dengan para Pengikut Penerus Raja ? Mereka pastinya lebih downgrade lagi.


Alih-alih bertanya langsung kepada Raja. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Akal dan Nafsu. Betapa banyak cerita epos raja-raja dan penerusnya. Bukan solusi mudah yang ada, justru nafsu serakah yang muncul.

Sebutlah bila Raja ini memiliki 5 Penerus Raja dengan sebutan : Yahudi, Hindu, Budha, Kristen, Islam (sebagaimana pertanyaan bagaimana bersikap toleransi terhadap pihak agama lainnya yang memiliki kebenarannya sendiri).

Maka analogi solusi : Bertanya saja para Penerus Raja ini dengan sang Raja. Selesai.... itu sesuatu yang manis. Jauh api dari panggang.


Bila secara konsep keagamaan, maka bolehlah para Penerus Raja ini bertanya kepada Raja (Tuhan). Bertanya nanti di hari akhir keputusan dibuat.

Bila secara sosial kemanusiaan, maka bagaimanakah para Penerus Raja ini bertanya kepada Raja (Tuhan) ketika secara kejiwaan manusia bukanlah malaikat. Tapi entitas mahluk yang miliki rasa dan punya hati.

Maka kalau saya boleh perjelas kembali pertanyaan itu adalah seperti ini :
"Bagaimanakah umat islam menyikapi / bertoleransi terhadap umat agama lain yang memiliki kebenarannya masing-masing ?"


Maka lepaslah analogi manis si penceramah itu ketika saya masukkan unsur kemanusiaan didalam analoginya.


Dalam sejarah manusia selalu ada keserakahan, lupa, kebodohan, kebijakan dan kekejian didalamnya. Bagaimanakah si Penerus Raja mendapatkan jawaban bila sang Raja belum juga memberikan jawaban sampai tiba waktunya yang entah kapan, suka-suka si Raja.

Manusia tempatnya salah dan lupa. Konsep keagamaan yang berasal dari Tuhan sebenarnya memiliki kebenarannya. Lalu bagaimanakah ceritanya kalau sekarang ada begitu banyak Agama (Penerus Raja) ?

Manusia tempatnya salah dan lupa. Ada entitas WAKTU yang selalu menjadi jargon Prof. Steven Hawkins terkait dunia ini yang selalu menjadi perhatian dunia sains.

Waktu membuktikan bahwa para Penerus Raja ini tidaklah lahir bersamaan. Ada runtutan waktu. Penerus Raja 1 lahir pertama. Penerus Raja 2 lahir kedua, dan seterusnya.

Lalu bagaimanakah konsep Kebenaran Agama ini dianalogikan sebagai Penerus Raja ?
tentunya setiap Penerus Raja mendapatkan kebenaran. lalu kemudian bagaimanakah seorang Raja memilih Penerus Raja yang hanya dapat dipilih SATU dari sekian banyak Penerus Raja yang lahir kemudian ?


Apakah mengikuti mekanisme Pemilihan Raja baru dengan mekanisme Anak Pertama sebagai Kandidat Raja Berikutnya ?

Apakah mengikuti mekanisme Pemilihan Raja baru dengan mekanisme Pengambil Alihan Kekuasaan Raja ?

Apakah mengikuti mekanisme Pemilihan Raja baru dengan mekanisme demokrasi yang terbanyak yang menang ?


Lalu bagaimanakah konsep Toleransi diterapkan bila setiap Penerus Raja dibisiki secara pribadi bahwa mereka adalah Penerus Raja yang dijanjikan ?


Bagaimanakah para Pengikut Penerus Raja ini bertoleransi kalau bertahun-tahun tak juga diberikan jawaban oleh sang Raja ?


Apakah Anda berharap para Pengikut Penerus Raja ini akan diam saja dalam aktivitas sehari-harinya tanpa peduli dalam mengadvokasi Penerus Raja dan Keputusan Raja ?



...

semanis-manisnya analogi manusia, maka tetap bersandar pada akal dan pikirannya.

semanis-manisnya analogi manusia, maka standar manusia yang jadi patokannya.


(im)
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.

DETOKS IT'S BUAH

IT's Buah

Labels