catatan diri dan tren berita di masyarakat

Senin, 08 Agustus 2011

im Bong :DENDAM!!

Selamat pagi untuk rekan-rekan Tekinas dan para penggemarnya. Sabtu (6/8) lalu, saya diundang oleh Pak Hirmana untuk menghadiri seminar Bong Chandra dengan judul “180 Degree”. Acara ini diselenggarakan di Mega Glodok Kemayoran (MGK). Gembira juga bisa bertemu kembali lagi dengan Pak Hir setelah sekian lama. Namun ‘agak-agak keki’ juga menghadiri acara ini.

Pagi itu, dengan mindset bahwa acara seminar itu resmi, saya persiapkan penampilan saya dengan oke (yang menurut saya elegan, ahiak). Gak mau kalah juga dengan Bong Chandra. Kenapa ? Sarah sempat katakan bahwa Bong Chandra benar-benar perhatian dengan penampilannya. Saya juga perhatikan bahwa dia selalu memakai jas yang rapi dan elegan. Fashionable lah kata orang sininya. Itu sebabnya saya datang ke acara tersebut dengan menggunakan kemeja batik biru perak yang oke. LOH?!! Rekan-rekan, pakaian itu yang menurut pemikiran saya paling oke dibandingkan dengan pakaian lain di lemari saya. Mindset saya berkata,” Imraan, pakai yang oke ya. Itu acara bagus!”



Apa yang terjadi kemudian setelah saya bertemu dengan Pak Hir pagi itu di depan Hotel UNJ. Beliau mengenakan kemeja hitam (yang menurut saya santai) dan celana jeans hitam. Begitu pula dengan Bayu yang datang tidak lama setelah saya. Jadi kepikiran mau pergi kondangan nih, saya. Tapi saya optimis seperti kalimatnya Bong Chandra, ”Kesuksesan selalu meninggalkan jejak.”

Seperti seorang teman jauh saya yang takjub alih-alih berkata ,”WHAT!??! Kok bisa???!!!” Bisa-bisanya... setiap kali bertemu dia, saya selalu mengenakan batik.

Ngeles: mudah-mudahan saja Batik Indonesia dapat lebih bersinar di kancah lokal dan global.

Hal lain yang bikin saya ’keki’ adalah, ”Kok bisa ya si Bong Chandra ini bisa jadi sehebat ini. Apalagi doi lebih muda dari saya” (lebih keren lagi, huff). Muncul pertanyaan seperti Bong bertanya pada dirinya dahulu,”Kenapa hidup si A bisa berubah dengan cepat?” Rupanya seminar hari ini menjawab kegundahan dan kekekian saya selama ini memperhatikan Bong Chandra. Kalau kata Nabi Muhammad SAW, tidak boleh iri kecuali pada dua orang. Dua orang itu adalah mereka yang diberikan harta dan mampu menggunakannya dengan benar dan baik dan mereka yang diberikan ilmu/hikmah dan mampu mengamalkannya untuk kebaikan.

Kok bisa?! Kegundahan saya ini juga pernah dialami oleh Bong Chandra dahulu sebelum dia menjadi setenar ini. Ada 10 hal yang dibagi oleh Bong Chandra. Mengenai permasalahan ini. Hal ini lah kenapa seminar kali ini berjudul ”180 Degree”. Seminar ini mengurai kenapa Bong Chandra dapat berubah 180 derajat hingga menjadi sekarang ini.

Hal pertama adalah mengenai hal yang tidak terlihat. Kalau kata keren Tekinas dan TP itu ’intangible’. Apa saja hal yang tidak terlihat itu?

Hubungan kita dengan IMF. Loh?! Maksud Bong ’istri-mertua-family’ dan juga bagaimana hubungan kita dengan teman-teman dekat kita. Benahi hubungan selama ini dengan orang-orang terdekat kita. Apakah kita selama ini menempatkan mereka sebagai orang sekedar lewat saja, atau memang kita jadikan mereka sebagai landasan kita berjuang untuk hidup. Ada kekuatan yang lebih besar ketika diri ini berjuang untuk orang lain. Kalau kata Mario Teguh, ”Hebatkan orang lain, hormati dia, perjuangkan dia, maka lihat apa yang terjadi... ”

Bong Chandra mengutip Uncle Ben pada Peter Parker bahwa dibalik kekuatan yang hebat, ada tanggung jawab besar di belakangnya.

Hal kedua kenapa Bong Chandra dapat menjadi sekarang ini adalah karena Mr.Bean. Kok bisa?! Ada hubungan apa?! Mr. Bean merupakan legenda. Filmnya selalu diputar berulang-ulang kali meskipun sudah lama sekali sejak pertama kali siar di televisi. Film komedi berdurasi pendek atau sedang ini pun dirancang tidak bersuara. Kenapa? Karena Rowan Atkinson dkk ingin memberikan hiburan yang dapat diterima oleh semua kalangan tanpa harus terbatasi waktu sibuk aktivitas orang dan kendala bahasa. Jadilah orang yang dikenal baik karena kebiasaanya bukan pada penampilannya.

Hal ketiga adalah menjadi penjudi ulung. Bukan berarti harus menjadi penjudi dan belajar dari Chow Yun Fat dan Stephen Chow dalam God of Gamblers. Bagi kajian entrepreneurship bagian ketiga ini berarti risk-taker atau pengambil resiko. Kita harus dapat mengambil resiko dengan kalkulasi yang tepat.

Hal keempat tentang peniruan alias copycat atau copydog kata Bong. Menurut saya kita harus cari dan temukan role model kesuksesan untuk diri kita. Tiru dia kalau perlu 100% tapi harus bilang-bilang kalau kita ingin meniru 100%. Meskipun Bong Chandra membahas bagian ini mengenai produk atau jasa, alangkah indahnya bila kita dapat meniru perilaku orang-orang sukses. Tiru dari jauh mengenai sikapnya, pemikirannya ataupun visinya.

Hal kelima adalah untuk berkata TIDAK. Katakan tidak pada orang-orang yang menawarkan peluang-peluang baru ketika diri kita sedang mengurusi sesuatu hal yang. Katakan tidak pada peluang-peluang yang dapat dilakukan dengan cepat. Katakan tidak pada sumber-sumber masalah yang bisa bikin tidur gak nyenyak, dan menyesal dikemudian hari.

Hal keenam adalah BALAS DENDAM. Bong mengatakan dalam hati terdalam bahwa dendam merupakan motivasi utamanya untuk menjadi sukses. Kemarahan dan dendam atas perkataan atau tindakan orang lain yang menyakiti diri Bong menjadi motivasi dirinya untuk terus bergerak. Begitupun diri kita. Ketika merasa marah dan kecewa hingga berbekas, biasanya kita melampiaskannya dalam hal-hal yang negatif. Arahkan balas dendam itu untuk membuktikan bahwa diri kita dapat berhasil dan sukses hingga membalaskan dendam dengan cara yang positif.

Menurut saya ini yang paling sulit. Hal ini karena alam bawah sadar kita terbiasa menyerap rasa sakit, marah, dan kecewa ini dengan bentuk-bentuk negatif. Menggerutu. Dendam untuk membalas dengan cara yang serupa kita tersakiti. Melakukan tindakan-tindakan bodoh dan sejenisnya.

Hal ini yang paling sulit. Disaat kita merasa bahwa balas dendam itu tidak baik, life must go on, dan kita mengalihkan pada hal-hal lain alih-alih menjauhi dendam dan kemarahan itu. Jadi gak nyambung dan jalan sendiri-sendiri. . ... dan mungkin dendamnya akan terpendam sendiri. (Hal ini yang menurut Freud menjadi biang masalah berikutnya).

Wew~ inilah saatnya kita menjadi PENGATUR PERMAINAN. Bagian ketujuh ini yang menarik. Bong Chandra menempatkan THE SPECIAL ONE pada slidenya. Kita tidak akan bisa punya positioning yang kuat bila kita tidak menempatkan diri kita dengan persiapan yang memadai. Kita harus punya perencanaan diri. Kita harus punya kapasitas diri. Kita harus punya setting tempat yang membuat kita nyaman. Jangan jadikan permasalahan berada di tempat dan waktu yang menguntungkannya.

Bagaimana kalau mendadak ketiban masalah?!?! Atau bagaimana bila ada peluang datang begitu saja dengan tanpa ada kesiapan dan pesimisme datang??

Tetap confident. Pupuk rasa percaya diri dengan siapkan pengalaman bagaimana kita menghadapi permasalahan sebelumnya. Bila memungkinkan, kita bisa menentukan dimana kita berada dan bagaimana kita bicara.

Bagian kedelapan berjudul : Klaim yang Terbaik. Sugesti diri kita. Bagaimana kesuksesan kita. Pupuk rasa percaya diri. Tunjukkan keunikan diri kita dibanding yang lain. Dan melesatlah dengan strategi-strategi marketing dan public relation. Dekati jaringan media massa, sebar isu dan tunggu beritanya.

Mau sukses? Jual keunikan diri. Kalau kata Erwin Arnada (...), meski bagus kalau gak unik, gak beda, tetep susah buat ngejualnya.

Bagian kesembilan, aji mumpung. Ambil peluang yang ada. Entrepreneurship giat mengenai hal ini. Tahu dulu apa kebutuhan kita.. Lihat, dengar dan rasakan (Sheila on 7) saja peluang apa yang membuat kita bisa mendapatkan kebutuhan itu. Ketika benar-benar peluang itu datang...
 TANGKAP DENGAN SEGERA!
 Mumpung sudah ada blog. Nanti baca-baca blog Tekinpreneur Proposal di blogspot saya ya. Kalau ada yang rela dan ikhlas menulis komentar saya sangat berterimakasih sekali. ^_^ ~

Kesepuluh adalah ”Dengarkan baru Tolak”. Kenapa? Karena ada etika orang-orang yang terbuka dan mau maju adalah untuk mendengarkan dahulu apa yang disampaikan. Dengar bukan berarti untuk langsung ditolak mentah-mentah. Dengar untuk dipikirikan dan dirasakan. Bila memang tidak cocok. Bila memang tidak enak. Yah, silahkan tolah peluang yang ada.

Ingat, jangan pernah langsung menolak orang lain bicara sampai-sampai dia tidak sempat menyampaikan pesannya pada kita. Begitu juga Bong Chandra menyampaikan hal ini. Begitu pula saya menulis laporan ini. Meski agak-agak nyeleneh, silahkan Anda komentari saja. Buat saya prioritas pertama adalah Anda dengarkan dulu (baca) apa yang saya sampaikan ini. Kedua silahkan mengomentari tulisan ini. Ketiga katakan dalam keadaan ”THETA” bisikkan dengan perlahan, ”si Imraan ternyata berpotensi menjadi penulis, ya.” Kemudian, tidurlah dengan nyaman dan tenang.

Gubrak!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Viewer

Diberdayakan oleh Blogger.

DETOKS IT'S BUAH

IT's Buah

Labels