catatan diri dan tren berita di masyarakat

Rabu, 04 Mei 2011

MaRAH !!!

Senin, 25 April 2011.

Sering kali perasaan marah muncul. Manusiawi. Hal lain diluar nalar kita adalah bahwa ternyata 'marah' itu juga bagian dari anugerah. Sebuah potensi yang diberikan kepada Manusia. Bahkan untuk kalangan binatang, perasaan 'marah' sudah menjadi insting hidupnya.

Insting marah pada binatang dapat dilihat dari induk yang berusaha melindungi anaknya. Usaha untuk melindungi sarang. Atau menjaga kawanan dan kelompoknya.

Hal yang sudah menjadi lumrah bagi kita, rasa marah itu selalu berkonotasi negatif. Marah itu menyeramkan. Sesuatu yang tidak mengenakkan bagi orang yang mengalaminya atau orang yang berada di dekat orang yang sedang marah itu.

Kenapa manusia dapat merasakan marah? Apa sih rasa marah itu?

Terkadang ketika rasa marah itu muncul, kita berusaha untuk mencari-cari sesuatu untuk dilampiaskan. Entah itu pada orang atau situasi yang membuat kita marah. Dapat juga kita melampiaskan pada hal-hal lain yang membuat kita reda.

Namun alih-alih untuk melampiaskan pada hal-hal yang menurut diri ini bisa menenangkan kemarahan, hal itu malah menjadi kekuatan bagi kemarahan itu sendiri. Bentuknya dapat berupa memendam kemarahan dan dapat berupa meledakkan kemarahan.

mau artikel yg lebih ok? nih liat aja http://kesehatan.kompas.com/read/2009/04/24/20510849/Marah.yang.Bermanfaat
Share:

ngBlog Ekspres!!

Penulisan di sebuah blog dasar tujuannya adalah untuk menyampaikan ekspresi diri. Sama seperti filosofi dari sebuah dunia maya bernama internet, maka ekspresi diri itu merupakan suatu bentuk dari kebebasan.

Entah itu kebebasan informasi atau kebebasan bersuara. Bentuk penulisan informasi dapat berupa berita, atau sekedar trik-trik dalam menyelesaikan suatu permasalahan terkait hobi tertentu, atau dalam bentuk petunjuk manual suatu produk. Hal yang paling banyak ada di dunia internet adalah penulisan informasi berita dan iklan untuk menjual suatu produk atau jasa. Sumbernya dari mana? Ah, hanya pengamatan pribadi. Gak usah diambil pusing lah ~ ..

Penulisan dalam bentuk kebebasan bersuara ini dapat berupa keluhan terhadap pelayanan sesuatu, atau bahkan keluhan terhadap dunia nyata. Mengeluh adalah salah satu sifat dasar manusia. Sifat ini menunjukkan bagaiamana sebenarnya manusia itu lemah. Belum lagi bentuk penulisan yang bernuansa afeksi. Emosi. Kemarahan. Kesedihan. Kesenangan. Gembira. Hingga mungkin yang terdalam dari diri seseorang yang tidak ditunjukkan di dunia nyata.

Nah, bagian dari penulisan ekspresi inilah yang banyak menghias blog ini. Kenapa? karena selain ada perasaan untuk menunjukkan bagaimana diri sendiri... JUGA ingin menjadi suatu bentuk untuk mengenali diri lebih dalam.

Menulis dapat menjadi sejarah diri kita sendiri. Atau bahkan sejarah dari manusia itu sendiri. Bila ada yang dapat dijadikan pelajaran atau hikmah maka itu adalah suatu nilai tambah. Tulisan yang bernilai tinggi. Bila tidak maka cukuplah untuk menjadi sekedar tahu bagi pembacanya.

Tips agar blog kita itu tidak bermasalah, tulislah seakan-akan punya cerita sendiri. Bila melibatkan orang lain, gunakan nama lain atau ceritakan seakan-akan itu adalah kisah-kisah-an... :P
Share:

Dimanakah rasa Aman itu?

Sejak lama aku yakin pada keinginan kuat diri ini untuk merubah takdir. Tentu bukan dalam artian untuk melawan takdir yang sudah ditentukan oleh Alloh SWT. Tapi takdir yang menjadi jalan hidup seorang manusia.

Sejak aku menemukan suatu tanda tanya dan tanda seru, aku akan mencoba untuk mencari tahu itu apa dan bagaimana terjadi. Kenapa dia muncul atau dimana dapat kutemukan jawaban bahkan kapan sebaiknya aku mengambil suatu tindakan. Aku harus lakukan itu.

Hal ini lah yang mendorong aku untuk belajar tentang cinta terhadap seorang wanita. Aku tidak menunggu cinta itu datang padaku. Aku membuat takdir ku sendiri untuk menemukan dan membuat cinta itu ada.

Aku percaya bahwa aku sudah membuat jalan takdirku sendiri dengan memilih dan membuat cinta itu ada. Bak gayung bersambut. Benar bahwa cinta itu harus selalu bertepuk tangan bersama. Tidak bisa sebelah tangan.

Cinta itu saling memberi. Begitu kata banyak orang. Apalagi kata Pak Mario Teguh. Harus rajin memberi kepada orang yang disayangi.

Memberi dalam artian fisik dan non-fisik. Juga memberi dalam artian materi dan non-materi. Aku tidak dapat memungkiri tentang fisik dan materi ini. Karena itu yang aku lihat sendiri. Tidak saja di dalam kotak TV tapi juga dari diriku sendiri. Namun, memberi dalam artian non-fisik dan non-materi adalah suatu esensi dari hubungan Cinta itu sendiri. Begitulah hemat ku.

Esensi dari Cinta itu yang membuat seseorang dapat menjadi dekat. Kaya bahkan termuliakan. Apalagi yang harus dicari manusia bila kepuasan dan kenyamanan sudah didapat dari rasa saling mengasihi dan melindungi?

Bukankah itu indah?

Namun setiap jalan memiliki kerikilnya sendiri. Meskipun dengan jalan yang lurus dan rata serta bersih, apakah kita bisa berjalan dengan baik bila jalan lurus dan rata bersih itu ternyata menahan panas yang begitu hebatnya?

Apa yang aku maksudkan ini bukanlah suatu bentuk pesimisme dan ketakutan diri. Namun ini adalah suatu bentuk apresiasi dari kesadaran diri. Sebuah keyakinan pada jalan takdir itu sendiri. Sebuah kekuatan sebagai seorang manusia yang diciptakan lebih sempurna dari mahluk lainnya.

Begitukah cinta?

Begitulah jalan cinta itu mulus pada awalnya. Suka-suka. Gembira. Indah. Dunia serasa milik sendiri. Semangat.

Makin lama berjalan, terlihat jelas egois dan kekeraskepalaan masing-masing individu. Aku tidak memungkiri ini karena pada awalnya aku juga egois. Aku egois dan keras kepala untuk menemukan dan membuat cinta itu tumbuh.

Aku butuh Cinta itu karena cinta itu akan menenangkan dan mengingatkan aku pada kebaikan. Dia akan memberi kenyamanan dan keamanan sama seperti aku yang ingin dapat memberi hal yang sama.

Namun makin lama berjalan cinta itu makin memperjelas pandangan. Jalan itu terkadang terjal naik dan turun. Berbelok tajam dan berbelok halus. Terkadang terik dan panas. Kadang pula hujan hingga badai menerpa. Terkadang sedingin embun pagi cerah hingga sedingin musim salju.

Apa yang paling menakutkan? Cinta itu tidak lagi membuat egoisme diri menyadari kekerdilannya. Bahkan cinta itu tersudutkan karena egoisme diri yang membesar.

Bukan tanpa sebab.

Kerikil di jalan mungkin membuat gerutu. Namun bila sebuah lubang curam kita temui, mungkin membuat kita berpikir ulang tentang perjalanan ini. Belum lagi bila ada runtuhan batu dari bukit dan karang di sekitar jalan.

Manusia, manusia. Dasar! Bisa saja menyalahkan situasi diluar dirinya. Padahal bisa jadi ketidaksiapan bekal yang kita bawa untuk berjalan di jalan itu dapat menjadi sumber masalah.

Begitukah cinta?



Esensi cinta itu adalah saling memberi kebaikan. Berikan apa saja yang dapat menjadi kebaikan bagi pasangan. Berikan dengan penuh kasih. Berikan tanpa harus melukai. Berikan dengan lembut. Kuatkan dirinya. Nyamankan dirinya. Amankan perasaannya. Sembuhkan lukanya.

Begitukah cinta?

Bagaimana perasaanku saat ini? Aku sudah menjalani saat kerikil itu mengganggu. Bahkan saat ini mungkin masih saja ada. Masalah dari diri sendiri yang aku sesali adalah kegoblokan diriku yang tidak cepat merespon apa yang terjadi. Tidak tanggap terhadap apa dia utarakan.

"Pay attention please!"

Sayang, maaf ya bila kegoblokanku itu membuat mu marah. Aku mohon cinta mu dapat memaafkan, memperjelas dan melembutkan perjalanan kita.

Bagaimana perasaanku saat ini? Aku sudah menjalani saat kerikil itu mengganggu. Bahkan aku sudah mengalami yang terburuk. Tidak saja aku yang menerima. Kamu juga menerimanya bukan?

Kenapa? Aku pikir kita sama-sama belum merasakan kebutuhan bekal perjalanan kita itu sudah mencukupi atau tidak. Yang penting jalan dengan bekal seadanya.

Aku tidak dapat memungkiri bahwa aku sudah mengalami hollow-fikasi. Terimakasih kepada Kurosaki Ichigo yang membantuku memahami apa yang terjadi pada diriku.

Apa yang aku butuhkan saat ini adalah pemurnian dan pensucian jiwa. Apakah aku dapat melakukannya sendiri? Ya tentu saja. Tapi itu tidak menjawab sebab aku memiliki lubang di dada ini.

Hollow-fikasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mati untuk hidup kembali dengan keadaan tidak tenang, dan jiwanya terperangkap dalam suatu derita karena suatu sebab. Keadaan ini dibuktikan dengan lubang di tubuh orang yang mengalami hollow-fikasi.

Pemurnian dan pensucian dapat membuat para Hollower dapat kuat dan bergerak menuju tempat yang membuatnya tenang dan tidak menderita lagi.

Aku yang sudah memiliki lubang ini merasa tidak aman. Apa yang aku butuhkan saat ini adalah rasa aman. . .

Apakah Cinta dapat memberikan rasa aman apabila dia juga dapat membuat jiwa ketakutan?

Aku butuh rasa aman. Aku merasa itu adalah perlindungan terbaikku. Rasa aman.

Aku butuh rasa nyaman. Aku merasa itu adalah sandaran terbaikku. Rasa nyaman.

Aku tanya padamu teman perjalananku :
"Apakah kamu merasa aman berjalan dengan ku?"

"Apakah kamu merasa nyaman berjalan dengan ku?"









sadly ... cause i don't
Share:

Viewer

Mengenai Saya

Foto saya

Apa kabar kawan. Saya seorang pendengar baik. Beberapa kali berinteraksi dengan banyak orang, membuat saya menjadi pendengar baik. Saya konsultan manajemen yang meminati coaching dan FGD. Saya meminati pengembangan sumberdaya manusia bisnis. Saya tidak ahli dalam desain grafis tapi saya tahu bagaimana memandu kebutuhan desain grafis kamu.
Dulu saya meminati studi kultural, kolaborasi multidisiplin dan tentang ke-Indonesia-an. Sekarang saya sedang mengoptimalkan diri saya untuk siapapun yang ingin terjun di start-up digital.

Diberdayakan oleh Blogger.

DETOKS IT'S BUAH

IT's Buah

Labels